Terlewat, tak Terlewatkan
Tanggal 31 Agustus 2011, tepatnya di hari rabu. Memasuki magrib, terdengar suara adzan yang mengumandang di rumah saya yang kebetulan tidak jauh dari Mushola. Terlihat dari dalam rumah lewat jendela kaca, banyak orang-orang yang menunaikan ibadah sholat. Tidak lama kemudian, setelah sholat magrib, isya’ dan tarawih dilaksanakan, terdengarlah suara takbir yang begitu indah dan membanggakan. Segeralah saya mempersiapkan diri untuk menghadiri acara yang biasanya diselenggarakan. Yaitu acara dimana orang-orang dan tiap-tiap Masjid atau Mushola terbuat dari barang-barang bekas yang dibuat dengan kreatif. Yang kemudian berjalan mengelilingi jalan-jalan besar dengan diiringi lampu dan orang-orang mengucapkan “Allahu Akbar” sepanjang jalan.
Setelah sudah siap, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Tertundalah keberangkatan saya untuk jalan-jalan bersama teman-teman untuk mengikuti takbiran. Ditunggu-tunggu oleh saya hingga hujan redah. Tetapi cuaca tidak berpihak kepada saya dan masyarakat yang lain, hujan malah bertambah deras hingga setelah jam 00:00 malam. Sungguh menyedihkan malam Hari Raya yang menimpa masyarakat Belakang Padang. Bagi saya, ini sunguh-sungguh sangat menyedihkan. Karna malam ini beserta acaranya, hanya diadakan 1 tahun sekali. Itupun juga karna ingin merayakan hari akhir Ramadhan.
Setelah malam hari raya berlangsung hingga subuh, tibalah pagi di Hari Raya. Jam 5 subuh, saya dan sekeluarga bergegas untuk bersiap-siap menunaikan ibadah sholat Idul Fitri. Sungguh sangat menyenangkan bagi saya di Hari Raya ini. Karna seluruh keluarga saya berkumpul bersama. Antara lain dan terutama sekali Papa, karna ia pulang 1 tahun hanya 2 bulan cuti, dan itu di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Kemudian Mama, kakak, adik, abang ipar dan beserta keponakan-keponakan yang membuat keramaian di hari yang bahagia ini. Akan tetapi, kakak saya yang kedua dan suaminya beserta anak-anaknya tidak dapat berhari Raya bersama kami. Karna kakak saya beserta anak-anaknya pulang kekampung suaminya untuk berhari Raya disana. Tetapi walaupun begitu, saya tetap merasa senang menyambut Hari Raya ini, sehingga saya dan sekeluarga dapat melangsungkan dan pergi bersama-sama ke Masjid Janatul Firdaus untuk sholat Idul Fitri.
Sepulang dari Masjid, saya dan sekeluarga berkumpul bersama di meja makan untuk sarapan. Setelah sarapan, kami berfoto-foto sekeluarga. Sehingga dipenghujungnya, kami pergi ke pemakaman untuk berziarah kubur. Setelah pergi berziarah, saya dan sekeluarga mengunjungi kerumah-rumah saudara. Tiba di rumah bibi, seluruh keluarga besar kami pada ngumpul disana. Sanak saudara pada bersuka ria menyambut Hari Raya Idul Fitri yang bahagia ini yang hanya ada dalam 1 tahun. Ada yang berlari-larian dan berloncat-loncatan. Kegembiraan mereka karna juga disertai oleh dibagi-baginya ampau beserta salam-salaman antara satu dengan yang lain saling memaafkan.
Kemudian keluarga besar saya beserta paman, bibi, dan sepupu berjalan-jalan ke tempat saudara-saudara kami yang lain dan tetangga-tetangga. Menurut kami, bertamu ke rumah-rumah yang lain wajib. Karna di dunia ini, kita hanya hidup sekali dan manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain. Oleh sebab itu, kami begitu sangat bersemangat untuk berhari Raya/bersilaturahi kerumah-rumah tetangga. Sehingga menghabiskan banyak waktu.
Tujuh jam sudah berlalu. Tidak terasa saya dan sekeluarga sudah menghabiskan banyak waktu ke rumah-rumah saudara dan tetangga. Waktu yang kami habiskan itu bukan hanya untuk sia-sia. Akan tetapi untuk bersilahturahmi ke rumah-rumah orang. Sehingga waktu sudah menunjukkan jam 4:00 sore, mereka pulang ke rumah. Setiba malam harinya, waktu malamnya digunakan untuk beristirahat. Dan tidak lama kemudian datanglah tamu-tamu berkunjung kerumah. Yang selalu absent datang kerumah yaitu anak-anak. Terkadang yang datang kerumah gak tau anak siapa dan tinggal dimana. Karna anak-anak tersebut hanya menginginkan sebuah ampau saja. Terkadang lucu melihatnya dan terkadang jengkel melihatnya.
Keesokan harinya di waktu siang, temen dekat Papa saya bertamu kerumah kami. Pada saat itu, Mama memasak-masakan yang biasanya disukai oleh orang melayu, yaitu ikan asin, sambal terasi, sayur daun ubi dan sayur asam. Dan juga ada makanan yang di masak saat 1 hari sebelum lebaran, yaitu rendang, ayam disemur, sambal goreng paru kentang dan sayur lodeh. Dengan dihidangkan di meja makan, Papa dan Mama mengajak tamu untuk makan bersama-sama kami sekeluarga. Dengan begini, sungguh sangat terasa di Hari Raya.
Tidak terasa memasuki Lebaran ketiga. Saya dan keluarga pergi jalan-jalan kerumah saudara yang berada di Batam. Setiba disana, kami disambut gembira oleh paman dan bibi. Disediakan makanan di meja makan untuk makan bersama-sama. Setelah itu, sekeluarga besar kami pergi jalan-jalan ketempat taman rekreasi (ocarina) dan berenang di wather park.
Sungguh menggembirakan di Hari Raya tahun 2011 ini. Saya berharap, memohon dan hanya bisa berdoa, semoga di tahun-tahun berikutnya saya beserta keluarga diberi kesehatan, umur panjang, keselamatan, terhindar dari segala penyakit, diberi rezky yang berlimpah, dilapangkan hatinya dan diberikan kekuatan dalam menerima cobaan, dijauhi dari segala marabahaya, di tempatkan di sisi Allah SWT, membukakan hati dan pikiran kami agar selalu dekat dengan-Nya menjauhi semua larangan-Nya dan mematuhi semua perintah-Nya, di hapuskan segala dosa-dosa yang di masa lalu dan di masa sekarang, dan semoga ibadah saya dan keluarga saya dapat diterima di sisi Allah SWT, serta di tahun berikut-berikutnya, Hari Raya Idul Fitri yang akan datang masih seperti ini, dan berkumpul semua keluarga besar saya. Amin amin yarobbal’alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar